Blitar.NewsHitamPutih.com – Di balik senyum anak-anak yang berangkat ke sekolah setiap pagi, terkadang tersimpan luka yang tidak terlihat. Luka itu bukan akibat jatuh atau benturan, melainkan luka batin karena perundungan yang terus berulang.
Hal itulah yang kini dirasakan BY (16), remaja asal Desa Karangbendo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. Menurut penuturan keluarganya, BY diduga menjadi korban perundungan saat masih duduk di bangku kelas II SMP pada tahun 2024 di salah satu SMP di Kecamatan Nglegok.
Sejak peristiwa itu, perubahan BY disebut terjadi secara perlahan namun pasti. Anak yang sebelumnya ceria mulai sering mengurung diri, enggan bergaul, dan lebih banyak diam. Kondisinya terus memburuk hingga akhirnya mengalami gangguan kejiwaan.
Yang lebih menyayat hati, keluarga mengaku persoalan tersebut sebenarnya pernah dimediasi oleh pihak sekolah dan telah diselesaikan secara damai dengan orang tua pihak yang diduga melakukan perundungan. Namun menurut keluarga, setelah perdamaian itu, dugaan perundungan masih tetap terjadi sehingga meninggalkan luka batin yang semakin dalam.
Kini, bukan lagi persoalan siapa yang benar atau salah. Yang ada hanyalah seorang anak yang sedang berjuang melawan kondisi kejiwaannya, dan orang tua yang setiap hari dihantui harapan agar buah hatinya bisa kembali sehat seperti sedia kala.
Keterbatasan ekonomi membuat perjuangan keluarga semakin berat. Biaya pengobatan dan pendampingan psikologis tidak mudah dipenuhi, sementara kondisi BY membutuhkan penanganan yang berkelanjutan.
Melalui pemberitaan ini, keluarga berharap ada perhatian nyata dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan agar dapat memberikan pendampingan, akses layanan kesehatan, maupun bantuan yang memungkinkan BY memperoleh pengobatan secara optimal.
Keluarga juga berharap pihak-pihak yang dahulu terlibat dalam peristiwa tersebut dapat membuka hati, melihat kondisi BY saat ini, dan apabila memungkinkan turut memberikan dukungan sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan.
Perundungan bukan sekadar candaan. Bukan pula kenakalan yang bisa dianggap sepele. Luka fisik mungkin dapat sembuh dalam hitungan hari atau minggu, tetapi luka psikis bisa menetap bertahun-tahun, bahkan mengubah masa depan seorang anak.
Hingga berita ini diterbitkan, media masih berupaya menghubungi pihak sekolah, instansi terkait, serta pihak-pihak lain untuk memperoleh klarifikasi dan mendorong adanya langkah nyata demi membantu proses pemulihan BY.
Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh di lingkungan yang aman, dihormati, dan terbebas dari segala bentuk perundungan. Sebab, ketika satu anak kehilangan masa depannya akibat bullying, sesungguhnya kita semua memiliki tanggung jawab moral untuk tidak tinggal diam.(bowo)