BLITAR – Kepedulian terhadap masa depan seorang remaja berusia 16 tahun berinisial BY, warga Desa Karangbendo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, terus mengalir. Setelah kisahnya menjadi perhatian publik akibat dugaan perundungan (bullying) yang berdampak pada kondisi kesehatan mentalnya, berbagai pihak berkolaborasi untuk mengupayakan proses pemulihan yang optimal bagi BY.
News Hitam Putih bersama ORMAS BIDIK Jawa Timur dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPC Ponggok turut mengawal proses pendampingan tersebut dengan berkoordinasi bersama pemerintah desa, tenaga kesehatan, serta tokoh agama. Upaya ini tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga mencakup pembinaan mental, spiritual, dan sosial.
Pada Rabu, 22 Juli 2026, telah dilaksanakan pertemuan di Balai Desa Karangbendo yang dihadiri oleh Kepala Desa Karangbendo Khairul Anam, perwakilan Dinas Sosial Arif Budi, Babinsa, bidan desa, serta pihak-pihak yang terlibat dalam pendampingan korban.
Dalam pertemuan tersebut disampaikan bahwa BY telah mendapatkan penanganan medis. Namun, proses pengobatan belum berjalan optimal karena BY kerap menolak mengonsumsi obat yang diberikan. Sebagai langkah sementara untuk menjaga kondisi kesehatan, bidan desa memberikan terapi melalui injeksi.
Melalui diskusi yang berlangsung cukup panjang, seluruh peserta rapat sepakat bahwa BY memerlukan lingkungan yang lebih kondusif agar proses pemulihan dapat berjalan maksimal. Selain pendampingan medis yang tetap diberikan melalui fasilitas kesehatan setempat, BY juga dinilai membutuhkan pembinaan spiritual, aktivitas positif, serta interaksi sosial yang sehat.
Hasil musyawarah memutuskan bahwa BY akan ditempatkan sementara di lingkungan pondok pesantren untuk mendapatkan pembinaan rohani, penguatan karakter, serta rutinitas yang diharapkan dapat membantu pemulihan kondisi mentalnya. Pilihan awal diarahkan ke Pondok Pesantren Asy Syujaiyah di bawah asuhan Kyai Munif.
Pada Jumat, 24 Juli 2026, BY diantarkan langsung oleh Kepala Desa Karangbendo serta kedua orang tua BY yang juga ikut mendampingi dan mengantar BY ke pondok, bersama rombongan yang terdiri dari ORMAS BIDIK Jawa Timur, News Hitam Putih, serta Ketua DPC PSI Ponggok, Imam, yang turut mendampingi proses hingga ke lokasi.
“Harapan kami, dengan ditempatkan di pondok, BY dapat kembali berinteraksi dengan teman-teman seusianya, mengikuti kegiatan positif, memperoleh pembinaan spiritual, sehingga secara bertahap kondisi mentalnya dapat pulih dan kembali menjalani kehidupan secara normal,” ujar imam
Setibanya di Pondok Pesantren Asy Syujaiyah, rombongan disambut langsung oleh Kyai Munif selaku pengasuh pondok. Setelah melakukan observasi awal dan diskusi terkait kondisi BY, Kyai Munif menyampaikan bahwa kondisi psikologis BY masih memerlukan pendampingan intensif serta lingkungan yang lebih tenang.
Dengan mempertimbangkan jumlah santri dan padatnya aktivitas di pondok, Kyai Munif kemudian memutuskan untuk menitipkan sementara BY kepada sahabatnya, Gus Rohmad, pengasuh Majelis Alif, Wonorejo, Srengat, Blitar. Menurut Kyai Munif, lokasi tersebut dinilai lebih kondusif untuk memberikan pendampingan secara personal terhadap kondisi mental dan spiritual BY.
Usai pelaksanaan Salat Jumat, rombongan bersama Kyai Munif menuju Majelis Alif. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Gus Rohmad yang menerima amanah tersebut dengan penuh kepedulian.
Sinergi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, partai politik, serta media menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap seorang anak tidak cukup hanya dengan empati, tetapi juga membutuhkan tindakan nyata dan kolaborasi berbagai pihak.
Proses pemulihan BY tentu tidak akan berlangsung dalam waktu singkat. Namun dengan dukungan keluarga, masyarakat, tenaga medis, serta pembinaan spiritual yang berkelanjutan, harapan untuk melihat BY kembali pulih dan menjalani kehidupan seperti remaja pada umumnya masih terbuka lebar. (Bowo)