TULUNGAGUNG.NewsHitamPutih.Com – Malu harusnya. Ratusan warga Desa Sumberdadap, Kecamatan Pucanglaban, Tulungagung turun ke jalan bukan untuk protes. Mereka membawa sekop, semen, dan batu. Mereka memperbaiki sendiri jalan rusak sepanjang 1,2 kilometer yang sudah bertahun-tahun dibiarkan.
Ini bukan kerja bakti biasa. Ini bentuk kekecewaan. Kondisi jalan di desa mereka hancur bertahun-tahun. Lubang menganga, aspal mengelupas, dan setiap musim hujan berubah jadi kubangan. Warga sudah lapor. Warga sudah menunggu. Tapi Pemkab Tulungagung seperti tutup mata.
Dengan pasrah mereka berteriak lewat aksi:
“Mohon perhatian kepada bupati dan dewan. Ini demo santun dengan memperbaiki jalan yang rusak tanpa melibatkan pemerintah”
Demo santun. Istilah yang getir. Karena artinya: warga sudah lelah berteriak, jadi mereka bekerja sendiri. Padahal jalan itu urusan negara. Jalan itu dibangun dari pajak warga. Jalan itu jadi tanggung jawab pemerintah daerah. Tapi ketika negara absen, rakyat yang harus turun tangan dengan uang dan tenaga sendiri.
Ironis. Di saat Pemkab sibuk urus Silpa ratusan miliar dan pencitraan WTP, di Pucanglaban ada warga yang harus memperbaiki jalan pakai swadaya.
Pertanyaannya sederhana: Kemana anggaran infrastruktur? Kemana fungsi dewan sebagai wakil rakyat? Dan sampai kapan warga harus “demo santun” hanya untuk bisa lewat tanpa jatuh ke lubang?
Pemkab Tulungagung harus malu. Karena saat rakyat sudah bergerak sendiri, itu tandanya negara sudah gagal hadir.(dian)