TULUNGAGUNG.NewsHitamPutih.com – Dunia santri tidak hanya melulu soal mengaji, tetapi juga tentang kemandirian dan mental berwirausaha. Salah satu bukti nyata lahir dari sosok Mas Ady Prayoga, seorang alumni Pondok Pampang, Sambitan, yang berada di bawah asuhan ulama kharismatik KH. Toha Maksum (yang akrab disapa Gus Maksum).
Pemuda asli Kediri, tepatnya dari Dusun Krampyang, Desa Kalipang, Kecamatan Grogol ini, sukses membuktikan bahwa latar belakang santri mampu menjadi modal kuat untuk meraih keberhasilan di dunia bisnis jual beli domba.
Merintis Usaha Sejak Nyantri
Perjalanan bisnis Mas Ady tidak didapatkan secara instan. Jiwa kewirausahaannya sudah mulai diasah sejak ia masih berstatus sebagai santri aktif di Pondok Pampang. Di sela-sela kesibukannya menuntut ilmu agama, ia mulai melirik potensi peternakan dan perdagangan domba.
Dengan ketekunan, kejujuran, dan kedisiplinan yang diajarkan oleh Gus Maksum, Mas Ady merintis usahanya dari bawah. Berbekal modal seadanya dan jaringan sesama santri, ia perlahan membangun reputasi sebagai penyedia domba berkualitas.
Ketemu Jodoh dan Menetap di Tulungagung
Garisan takdir tidak hanya membawa kesuksesan finansial bagi Mas Ady, tetapi juga urusan asmara. Jalur niaga dan silaturahmi yang ia bangun membawanya bertemu dengan sang belahan jiwa di Tulungagung.
Kini, Mas Ady telah resmi mempersunting tambatan hatinya dan menetap di Desa Sambidoplang, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung. Kehadirannya di Tulungagung pun kian memperkokoh basis bisnis peternakannya, menjadikannya salah satu pengusaha domba muda yang diperhitungkan di wilayah tersebut.

Ekspansi Bisnis: Buka Cabang di Tanah Kelahiran
Tidak lupa akan tanah kelahiran, kesuksesan yang diraih Mas Ady di Tulungagung kini dibawa pulang ke Kediri. Guna memenuhi permintaan pasar yang terus melonjak, ia resmi melakukan ekspansi dengan membuka cabang usaha jual beli domba di Kediri.
Langkah ini diambil untuk mempermudah akses bagi para peternak lokal maupun konsumen di area Kediri Raya yang membutuhkan domba untuk keperluan qurban, aqiqah, maupun pembibitan.
”Keberhasilan ini tidak lepas dari barokah doa guru kami, Gus Maksum, serta ketelatenan yang dipupuk sejak di pondok. Santri harus mandiri secara ekonomi agar bisa memberi manfaat lebih luas,” ujar salah satu rekan terdekat Mas Ady saat menceritakan perjalanan suksesnya.
Kisah Mas Ady Prayoga menjadi inspirasi nyata bagi generasi muda, khususnya para santri di pesisir Kediri dan Tulungagung, bahwa keterbatasan saat berproses di pesantren bukanlah penghalang untuk menjadi pengusaha sukses di masa depan.(red)