MADINAH — Terik matahari yang menyengat hingga suhu mencapai sekitar 44 derajat Celsius tak menyurutkan langkah para jamaah untuk menuntaskan rangkaian ibadah umrah.
Rasa lelah, panas dan dahaga seolah menjadi bagian kecil dari perjuangan menuju kesempurnaan ibadah. Di balik setiap langkah yang terasa berat, tersimpan doa, harapan dan kerinduan yang begitu dalam kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Umrah wajib yang dilaksanakan pada 13 September 2026 akhirnya dapat dituntaskan dengan penuh rasa syukur. Dua hari kemudian, tepatnya 15 September 2026, jamaah kembali menyelesaikan umrah sunnah.
Perjalanan ibadah tersebut terasa semakin istimewa karena seluruh rangkaian umrah mendapatkan bimbingan langsung dari KH Toha Maksum. Dengan arahan dan pendampingan beliau, jamaah menjalani setiap tahapan ibadah dengan lebih tertib, tenang dan penuh kekhusyukan.
Untuk pelaksanaan umrah pertama, jamaah mengambil miqat di Masjid Bir Ali, sementara pada umrah kedua mengambil miqat di Masjid Aisyah.
Dari sana, perjalanan spiritual kembali dimulai.
Tak sekadar perjalanan fisik, setiap langkah menuju Masjidil Haram seakan menjadi perjalanan hati. Di tengah jutaan manusia yang datang dengan bahasa dan latar belakang berbeda, semuanya berdiri dalam satu tujuan: memenuhi panggilan Allah SWT.
Panas yang membakar tubuh justru menjadi pengingat bahwa ibadah bukan selalu tentang kenyamanan.
Ada perjuangan.
Ada kesabaran.
Ada air mata.
Dan ada rasa syukur yang tak mudah diungkapkan dengan kata-kata.
Saat doa-doa dipanjatkan, ketika tangan menengadah dan mata menatap Ka’bah, segala rasa lelah seakan terbayar.
Umrah bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci. Ia adalah perjalanan hati untuk semakin dekat kepada Sang Pencipta.
Kini rangkaian umrah wajib dan umrah sunnah telah usai. Yang tersisa adalah rasa haru, syukur dan doa agar seluruh amal ibadah diterima Allah SWT, diberikan keberkahan, serta menjadi bekal untuk kembali menjalani kehidupan dengan hati yang lebih bersih.
Semoga setiap langkah yang telah dilalui di bawah terik matahari, setiap tetes keringat yang jatuh, setiap doa yang terucap dan setiap air mata yang menetes di Tanah Suci menjadi saksi atas sebuah perjalanan penuh cinta kepada Allah SWT.
Dari Tanah Suci, sebuah perjalanan mungkin telah selesai. Namun, kerinduan kepada Baitullah dan Rasulullah SAW justru baru saja dimulai. (Red)