Seleksi Sekda Tulungagung Tuntas, Siapa Nahkoda Yang Layak Pimpin Birokrasi ?

TULUNGAGUNG – “Seorang pejabat harus punya wibawa. Seorang pemimpin harus mampu jadi orang tua sekaligus guru. Karena pemimpin itu belum tentu jadi pimpinan,” tegas HS, tokoh politik kawakan Tulungagung. Kalimat itu jadi pengingat keras di tengah Seleksi Terbuka Sekda Tulungagung yang sudah masuk garis akhir.

Lima kandidat terbaik yang lolos administrasi per pengumuman 04/PANSEL-TA/VI/2026 tanggal 8 Juni 2026 kini sudah tuntas jalani makalah, presentasi, dan wawancara di Surabaya. Nama-namanya: Anang Pratistianto, S.T., http://M.Si., Galih Nusantoro, http://S.STP., M.M., Dra. Imro’atul Mufidah, http://M.Si., Sudarmaji, http://S.Sos., http://M.Si., dan Drs. Tri Hariadi, http://M.Si.

23 Juni 2026 mendatang pansel akan umumkan tiga nama yang berhak disodorkan ke bupati.

Dari lima kandidat, Staf Ahli Bupati Galih Nusantoro, http://S.STP., M.M. mengaku sudah berikhtiar maksimal dan sekarang pasrah pada hasil.

“Yang penting kita sudah berikhtiar. Hasilnya nanti kita serahkan kepada pansel dan pembina kepegawaian,” tegas Galih.

Sikap tenang yang sama juga ditunjukkan Sudarmaji, http://S.Sos., http://M.Si. dan Drs. Tri Hariadi, http://M.Si. Mereka memilih menunggu tanpa banyak komentar.

Tapi di luar ruang seleksi, publik mulai bicara. MS, wartawan senior Tulungagung, menunjuk Galih Nusantoro sebagai kandidat paling layak. Penilaiannya langsung nyambung ke pesan HS tadi.

“Galih itu beda. Wibawanya ada, jam terbang birokrasinya teruji. Dia paham betul nadi pemerintahan Tulungagung dari atas sampai bawah. Saat tegas dia tegas, saat merangkul dia hadir sebagai ‘orang tua’ buat bawahan. Komunikatif, tidak main perintah, dan berani potong birokrasi kalau demi warga. Tulungagung butuh Sekda yang begitu, bukan sekadar pintar administrasi. Kita butuh nahkoda yang bisa gerakkan OPD dan wujudkan visi bupati jadi kerja nyata,” kata MS.

Pernyataan itu menohok. Sekda bukan kursi pajangan. Dia koordinator seluruh OPD, penentu arah kerja, dan penanggung jawab roda pemerintahan sehari-hari. Kalau nahkodanya cuma pintar surat-menyurat tapi gagap ambil keputusan, birokrasi jalan di tempat.

Kini bola ada di tangan pansel. Tiga nama dari lima kandidat akan dipilih, satu yang dilantik. Warga Tulungagung berharap hasilnya bukan sekadar administratif. Mereka butuh Sekda yang punya wibawa, jadi guru bagi bawahan, dan berani turun tangan untuk kepentingan warga.(aan)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *