TULUNGAGUNG – Pondok Pesantren Pampang Kamulyan yang terletak di Desa Sambitan, Kecamatan Pakel, Tulungagung, terus meneguhkan perannya sebagai episentrum syiar dan literasi keagamaan. Di bawah asuhan KH. Toha Maksum, S.H., M.Pd., pesantren ini membuat terobosan dakwah yang terbilang intensif dan mendalam dengan menggelar program unggulan “Satu Malam Lima Kajian”.
Program maraton ilmiah keagamaan ini membedah khazanah Islam klasik secara komprehensif, mulai dari ranah hukum (fikih), interaksi sosial, hingga pembersihan jiwa (tasawuf), dan diakhiri dengan ruang diskusi interaktif bagi santri serta masyarakat umum.
Berikut adalah jalannya rangkaian lima kajian dalam satu malam yang diselenggarakan di Ponpes Pampang Kamulyan:
1. Kajian Tafsir Al-Qur’an
Sesi pertama dibuka dengan pembacaan dan pembedahan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kajian ini berfokus pada kontekstualisasi makna ayat dengan realitas kehidupan modern, sehingga para jamaah tidak hanya memahami teks, tetapi juga mampu membumikan pesan-pesan ilahi dalam keseharian.
2. Kajian Fikih Kontemporer dan Klasik
Memasuki kajian kedua, pembahasan beralih ke ranah hukum Islam (fikih). Menggunakan kitab-kitab muktabar (diakui), sesi ini membedah persoalan ibadah mahdhah (seperti shalat dan thaharah) hingga masalah fikih nawazil (persoalan hukum kontemporer) yang sering dihadapi masyarakat sipil di era digital.
3. Kajian Tasawuf dan Akhlak
Untuk menyeimbangkan pemahaman hukum yang kaku, kajian ketiga diisi dengan pendalaman ilmu tasawuf. Sesi ini berfokus pada pembersihan hati (tazkiyatun nafs), pembentukan akhlakul karimah, serta penataan niat dalam beribadah agar aktivitas sehari-hari bernilai spiritual di hadapan Allah SWT.
4. Kajian Kitab Tematik (Khazanah Keislaman)
Kajian keempat diisi dengan pembacaan kitab kuning pilihan secara tematik, baik yang mengulas tentang sejarah peradaban Islam, muamalah (ekonomi syariah), maupun penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah sebagai benteng spiritual santri dan warga sekitar.
5. Sesi Tanya Jawab Agama Interaktif
Sebagai pamungkas program, dibuka ruang dialog terbuka satu per satu. Jamaah dan santri diberikan kesempatan luas untuk berkonsultasi mengenai problem keagamaan, hukum fikih yang membingungkan, hingga persoalan keluarga. KH. Toha Maksum memimpin langsung sesi ini dengan memberikan jawaban yang lugas, bijak, dan berbasis dalil-dalil yang kuat.
”Program satu malam lima kajian ini sengaja kami rancang agar keilmuan Islam dipahami secara utuh. Fikih membuat kita tertib hukum, tasawuf membuat hati kita lembut, dan tafsir menjadi kompas utamanya,” ujar salah satu pengurus pesantren menirukan pesan KH. Toha Maksum.
Acara yang berlangsung khidmat ini tidak hanya diikuti oleh internal santri menetap (mukim), tetapi juga mulai memikat perhatian para jemaah eksternal dan masyarakat sekitar Sambitan yang haus akan ilmu agama yang terstruktur.(aan)