TULUNGAGUNG — Ada masa ketika seorang kepala daerah berdiri di hadapan rakyat dengan pakaian kebesaran. Berbicara tentang pembangunan, pelayanan, kesejahteraan, dan masa depan daerah.
Di hadapan kamera, senyum pun menjadi bagian dari pekerjaan.
Namun waktu kadang membawa manusia ke tempat yang sama sekali tidak pernah dibayangkan.
Kini, bukan podium yang menjadi latar belakang.
Bukan ruang kerja dengan meja besar.
Bukan pula kursi empuk yang biasa menjadi tempat mengambil keputusan.
Melainkan jeruji besi.
Dalam sebuah video yang beredar, mantan Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, terlihat berbicara dari balik jeruji. Wajahnya tampak serius. Nada dan suasana yang terekam terasa jauh dari hiruk-pikuk kehidupan pemerintahan.
Di tempat seperti itu, jabatan seolah kehilangan seluruh kemewahannya.
Tak ada ajudan.
Tak ada protokoler.
Tak ada tepuk tangan.
Dan tentu saja, tidak ada lagi rapat panjang yang biasanya dimulai dengan kalimat, “Baik, nanti kita tindak lanjuti.”
Yang tersisa hanya manusia dengan segala perjalanan hidupnya.
Dan sebuah perkara yang harus dihadapi.
Dalam suasana tersebut, sebuah kalimat sederhana kembali terasa berat:
“Mohon maaf…”
Hanya dua kata.
Pendek.
Tetapi ketika keluar dari balik jeruji, rasanya berbeda.
Ada kesedihan di sana.
Ada penyesalan.
Ada pula pertanyaan yang belum selesai.
Gatut Sunu sebelumnya juga pernah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Tulungagung ketika keluar dari Gedung Merah Putih KPK setelah ditetapkan sebagai tersangka.
Kini perkara itu telah memasuki proses hukum.
Ia sendiri membantah tuduhan pemerasan dan gratifikasi serta menyatakan bahwa terdapat keterangan dalam berita acara pemeriksaan saksi yang menurutnya tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.
Artinya, cerita ini belum selesai.
Masih ada proses yang harus dilalui.
Masih ada keterangan yang harus diuji.
Dan pada akhirnya, hukumlah yang akan menentukan bagaimana ujung dari perjalanan panjang tersebut.
Di sinilah letak getirnya sebuah kekuasaan.
Ketika berada di atas, seorang pejabat mungkin terbiasa menentukan banyak hal.
Namun ketika berhadapan dengan hukum, posisi seseorang menjadi jauh lebih sederhana.
Tidak lagi soal siapa punya jabatan.
Tidak lagi soal siapa punya pengaruh.
Yang berbicara adalah bukti, keterangan, proses persidangan dan keputusan hakim.
Ironis memang.
Dulu mungkin banyak orang menunggu tanda tangan seorang pejabat.
Kini justru tanda tangan dalam berkas perkara yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Dulu mungkin yang ditunggu adalah instruksi.
Sekarang yang ditunggu adalah putusan.
Begitulah kehidupan.
Kursi kekuasaan ternyata tidak selalu punya sandaran yang nyaman.
Kadang kursinya empuk.
Kadang kursinya berada di ruang pemeriksaan.
Dan ada kalanya, manusia harus belajar bahwa jabatan hanyalah titipan yang memiliki masa berlaku.
Yang tidak pernah punya masa berlaku adalah pertanggungjawaban.
Video tersebut menyisakan suasana sendu.
Seorang yang pernah berdiri sebagai pemimpin daerah kini berbicara dari balik jeruji.
Wajah yang dahulu hadir dalam berbagai kegiatan pemerintahan, kini terlihat dalam suasana yang jauh lebih sunyi.
Mungkin di balik semua itu ada satu pelajaran sederhana.
Bahwa kekuasaan bisa datang dan pergi.
Popularitas bisa naik dan turun.
Tetapi setiap keputusan pada akhirnya akan mencari tempat untuk dipertanggungjawabkan.
Dan mungkin, dari balik jeruji itu, kata “maaf” terdengar jauh lebih berat daripada ketika diucapkan di atas panggung.
Namun permintaan maaf bukanlah akhir dari sebuah perkara.Tetapi siapa yang mampu membuktikan apa yang sebenarnya terjadi.
Sebab pada akhirnya, jeruji hanya membatasi ruang gerak manusia.
Sementara itu, dari balik jeruji, dua kata itu masih terngiang:
“Mohon maaf…”
Dua kata sederhana.
Tetapi kali ini, terdengar begitu dalam. (Bw)