MADINAH — Menunaikan ibadah umrah bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci. Di balik setiap langkah menuju Baitullah, terdapat rangkaian ibadah yang harus dipahami dengan benar agar pelaksanaannya sesuai tuntunan syariat.
Hal itulah yang menjadi perhatian KH Toha Maksum dalam memberikan bimbingan kepada jamaah umrah. Manasik tidak hanya diberikan sebelum keberangkatan dari Tanah Air, tetapi pemahaman mengenai tata cara ibadah kembali ditekankan ketika jamaah telah berada di Tanah Suci, termasuk saat berada di Madinah.
Bagi KH Toha Maksum, ilmu menjadi bagian penting dalam kesempurnaan ibadah. Jamaah tidak cukup hanya memiliki niat dan kemampuan secara fisik maupun materi, tetapi juga harus memahami apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, serta apa saja yang harus diperhatikan selama menjalankan rangkaian ibadah umrah.
“Ibadah itu membutuhkan ilmu. Jangan sampai kita sampai di Tanah Suci, tetapi tidak memahami tata cara ibadah yang akan kita lakukan. Karena itu, manasik bukan hanya dilakukan di rumah, tetapi ketika sudah sampai di Tanah Suci pun perlu kembali diingatkan dan dibimbing,” demikian pesan yang ditekankan dalam pendampingan jamaah.
Dalam manasik umrah, jamaah mendapatkan pembekalan mulai dari persiapan keberangkatan, perlengkapan, kondisi perjalanan, hingga berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah.
Pembekalan juga mencakup fiqih thaharah dan shalat, tata cara mengenakan pakaian ihram, niat ihram di miqat, serta pemahaman mengenai larangan-larangan selama ihram.
Jamaah juga kembali diarahkan memahami rangkaian utama umrah, mulai dari tawaf tujuh putaran mengelilingi Ka’bah, sa’i tujuh kali antara Shafa dan Marwah, hingga tahalul sebagai penanda selesainya rangkaian ibadah umrah.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa manasik bukan sekadar formalitas sebelum keberangkatan. Manasik merupakan proses membekali jamaah dengan ilmu agar setiap ibadah yang dilakukan memiliki dasar dan pemahaman yang benar.
Terlebih ketika sudah berada di Tanah Suci, suasana, kondisi, kepadatan jamaah, serta berbagai situasi yang berbeda dengan Tanah Air membuat pendampingan dan penguatan pemahaman menjadi semakin penting.
Perjalanan umrah bukan hanya tentang sejauh apa kaki melangkah menuju Tanah Suci, tetapi juga tentang seberapa jauh ilmu membimbing setiap langkah dalam beribadah.
Bagi jamaah, pendampingan seperti ini menjadi pengingat bahwa menuntut ilmu tidak berhenti ketika meninggalkan rumah. Bahkan ketika telah sampai di Madinah dan Makkah, belajar dan mengingat kembali tata cara ibadah tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju kesempurnaan ibadah. (Red)