Sosok Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib dikenal sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah awal perkembangan Islam. Sebagai paman sekaligus saudara sepersusuan Nabi Muhammad SAW, keberanian dan ketegasannya menjadi benteng pertahanan bagi dakwah Rasulullah SAW di tengah intimidasi kaum Quraisy.
Beliau Lahir di Makkah sekitar tahun 568 atau 569 Masehi—dua tahun sebelum Peristiwa Tahun Gajah—Hamzah merupakan putra dari Abdul Muthalib bin Hasyim dan Halah binti Wuhaib. Hubungannya dengan Nabi Muhammad SAW sangat dekat; selain sebagai paman dari pihak ayah, keduanya merupakan saudara sepersusuan karena sama-sama pernah disusui oleh Tsuwaibah. Kedekatan ini menjadikan Hamzah salah satu sahabat yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW.
Momen Penting Masuknya Islam
Momen masuk Islamnya Hamzah pada akhir tahun keenam kenabian (sekitar 616 M) menjadi titik balik besar bagi posisi penganut Islam di Makkah. Keputusan tersebut dipicu oleh rasa geramnya saat mendengar kabar bahwa keponakannya, Nabi Muhammad SAW, dihina dan disakiti oleh Abu Jahal di Bukit Shafa.
Tanpa ragu, Hamzah mendatangi Abu Jahal yang sedang berkumpul di Masjidil Haram dan memukul kepalanya menggunakan busur panah hingga terluka. Di hadapan pemuka Quraisy, ia secara terbuka memproklamasikan keislamannya dan siap membela Rasulullah SAW. Kehadiran Hamzah di barisan umat Islam membuat kaum Quraisy berpikir dua kali untuk kembali mengganggu Rasulullah SAW secara sembarangan.
Atas keberanian serta pengorbanannya yang luar biasa dalam membela agama Islam hingga akhir hayatnya, Hamzah dianugerahi julukan Asadullah (Singa Allah) dan Sayyid al-Syuhada (Pemimpin Para Syuhada). (Red)