TULUNGAGUNG.NewsHitamPutih.com — Dunia pesantren yang secara historis dikenal sebagai kawah candradimuka bagi para pejuang intelektual kini tengah menghadapi tantangan serius di era disrupsi digital. Pergeseran nilai yang ditandai dengan memudarnya etos belajar santri akibat penetrasi gawai dan budaya instan mulai memicu keprihatinan mendalam dari kalangan akademisi.
Guru Besar UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prof. Ahmad Zainal Abidin, mengungkapkan bahwa ada indikasi nyata mengenai penurunan budaya literasi di lingkungan pesantren. Santri yang dahulu lekat dengan kajian kitab kuning yang tebal, saat ini dinilai mulai merasa terbebani bahkan hanya untuk membuka satu halaman kitab saja. Membaca tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan rohani, melainkan dianggap sebagai beban akademik yang melelahkan.
“Fokus mereka terpecah, raga ada di pesantren, namun pikiran melanglang buana di jagat maya yang serba hingar-bingar,” ujar Prof. Ahmad Zainal Abidin. Ia menyoroti bagaimana waktu luang santri yang seharusnya digunakan untuk muthala’ah atau mengulang pelajaran dan menghafal, kini sering kali habis tersedot oleh layar gawai untuk menyisir konten viral di media sosial seperti TikTok atau Instagram.

Krisis Tanggung Jawab dan Hilangnya Keberkahan
Selain matinya budaya literasi, fenomena lain yang mengkhawatirkan adalah hilangnya rasa tanggung jawab terhadap ilmu yang tertinggal. Berbeda dengan tradisi masa lalu di mana santri merasa sangat bersalah jika melewatkan pelajaran dan segera mencari cara untuk menambalnya atau ngabsahi ke kyai, saat ini pelajaran yang terlewat sering kali dibiarkan begitu saja tanpa ada rasa kehilangan.
Lebih lanjut, terjadi pula krisis praktik amaliyah dan hilangnya nilai adab atau rasa hormat. Ketika santri lebih memilih gawai daripada kitab, mereka secara tidak langsung memutus mata rantai spiritual dengan para guru dan pengarang kitab. Ilmu pun akhirnya hanya dianggap sebatas tumpukan informasi kognitif demi meluluskan ujian, bukan lagi sebagai panduan moral dalam bersikap sehari-hari. Kondisi ini dinilai menjauhkan santri dari prinsip kitab legendaris Ta’lim al-Muta’allim karya Imam al-Zarnuji yang menekankan pentingnya kesabaran ekstra atau istibar dan semangat tinggi atau hirsun dalam menuntut ilmu.
Langkah Radikal: Mengembalikan Jati Diri Santri
Menanggapi kemunduran ini, diperlukan langkah radikal dan kolaboratif dari otoritas pesantren untuk menyelamatkan generasi “penjaga gawang” moral bangsa tersebut. Prof. Ahmad Zainal Abidin menawarkan beberapa solusi strategis. Pertama, pesantren harus menerapkan regulasi gawai yang bijaksana namun tegas agar gawai tidak mendikte kehidupan santri di dalam bilik.
Kedua, mengaktifkan kembali budaya muthala’ah atau belajar bersama yang dipandu oleh senior atau ustadz demi memastikan tidak ada santri yang tertinggal dalam pelajaran. Ketiga, yang paling penting adalah reorientasi niat. Para santri perlu diingatkan kembali bahwa dunia digital hanyalah alat, bukan tujuan utama. Fokus masa depan harus dikembalikan pada visi besar keumatan atau warasatul anbiya, bukan sekadar mengejar jumlah likes atau eksistensi semu di media sosial.
Melalui upaya reorientasi etos belajar, ketekunan, serta penguatan adab ini, diharapkan cahaya di bilik pesantren dapat kembali menyala terang. Pesantren diharapkan kembali melahirkan generasi yang tidak hanya berilmu tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan nyata.(red)